Shinkansen. Ya, Nama itu pasti sudah nggak asing bagi para traveller, khususnya yang hobi jalan-jalan (minimal jalan-jalan virtual) ke Jepang. Saya lihat di forum pun sudah ada beberapa threadyang bercerita tentang kereta berhidung mancung itu. Namun sejauh yang saya baca, shinkansen baru sebatas dikenal sebagai “kereta super cepat dari Jepang”. Padahal, banyak lho trivia lain seputar shinkansen yang menarik untuk diketahui. Banyak kosa kata unik tentang shinkansen yang nggak bisa ditemukan dalam kereta biasa lainnya, baik di Jepang apalagi di Indonesia. Jadi pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi aneka trivia seputarshinkansen. Mudah-mudahan bisa membantu Indo-Japaners yang akan pergi ke Jepang untuk memahami konsep yang ditawarkan olehshinkansen, atau minimal bisa menambah pengetahuan seputar shinkansen.
Sejarah awal shinkansen
Percaya nggak, kalau proyek pembangunanshinkansen sudah digagas sejak tahun 1930-an. Awalnya, proyek ini mengambil terjemahan literal dari bullet train (kereta peluru), yaitu dangan ressha. Nama shinkansen sendiri pertama dicetuskan tahun 1940-an, dan shinkansen sendiri memiliki makna “shin” = baru dan “kansen” = jaringan rel. Jadi, sebetulnya salah kaprah jika mengira nama shinkansen bermakna “kereta super cepat”, karena shinkansen sebetulnya merujuk pada nama jalurnya. Yah, mirip-mirip dengan orang salah menyebut Trans Jakarta dengan busway, yang sebetulnya istilah buswaymerujuk pada jalur Trans Jakarta. Namun di luar negara Jepang, tak sedikit juga yang menyebutshinkansen dengan istilah superexpress atau bullet train saja.
Walau sudah digagas sejak tahun 1930-an,shinkansen pertama baru beroperasi pada tahun 1960-an. Tepatnya pada 1 Oktober 1964, yaitu saat berlangsungnya Tokyo Olympics. Awalnya, kecepatan kereta ini “hanya” berkisar 210 km/jam dan bisa menempuh jarak Tokyo-Osaka hanya dalam 4 jam saja (perjalanan normal membutuhkan waktu 6 jam 40 menit). Namun saat ini shinkansen terus berevolusi dan kecepatan rata-ratanya adalah 320 km/jam, walau dalam test drive dapat mencapai 581 km/jam.
Foto 01: Shinkansen
(a.) Macam-macam model shinkansen [foto: Rdb/wikimedia], (b.) Tipe N700 & N 500 [foto: Takeshi Kuboki/wikimedia], (c.) Seri E1 [foto: Sui-setz/wikimedia], (d.) Seri E2 [foto: zh:user:pyzhou/wikimedia]
Mengenal jalur shinkansen
Ini yang mungkin belum banyak diketahui oleh traveller pada umumnya. Di Indonesia, seluruh jalur keretanya di kelola oleh pemerintah. Namun berbeda dengan jalur kereta api di Jepang yang bisa dikelola oleh swasta. Jadi jangan heran jika mengamati nama jalur kereta di Jepang, ada beberapa nama perusahaan yang nyempil ikut eksis dalam nama jalur.
Begitu juga dengan jalur shinkansen. Secara umum, jalur shinkansen dikelola oleh group Japan Railways a.k.a JR. Namun sebetulnya, jalurshinkansen dioperasikan oleh 4 perusahaan yang bergabung dalam Japan Railway, yaitu JR Central, JR West, JR East, dan JR Kyushu. Keempat operator tersebut berbagi tugas menangani enam jalur shinkansen di seluruh Jepang. Adapun keenam jalur shinkansen dan operatornya adalah sebagai berikut:
JR Central, mengelola jalur Tokaido Shinkansen(menghubungkan stasiun Tokyo dan stasiun Shin-Osaka). Total panjang jalurnya adalah 515,4 km dan pertama dibuka tahun 1964.
JR West, mengelola jalur Sanyo Shinkansen(menghubungkan stasiun Shin-Osaka dan stasiun Hakata). Total panjang jalurnya adalah 553,7 km, dan dibuka tahun 1972-1975.
JR East, mengelola jalur Tohoku Shinkansen(stasiun Tokyo-stasiun Shin Aomori), Joetsu Shinkansen (stasiun Omiya-stasiun Niigata), danNagano Shinkansen/Hokuriku Shinkansen(stasiun Takasaki-stasiun Nagano). Tohoku Shinkansen memiliki panjang jalur 674,9 km, Joetsu Shinkansen 269,5 km, dan Nagano Shinkansen/Hokuriku Shinkansen 117,4 km.
JR Kyushu, mengelola jalur Kyushu Shinkansen(menghubungkan stasiun Hakata-stasiun Kagoshima Chuo). Total panjang jalurnya adalah 256,8 km dan dibuka tahun 2004-2011.
Foto 02 (a & b.):
Peta jalur shinkansen [foto: Hisagi/wikimedia, aney/wikimedia]
Oya, untuk tambahan informasi, ada juga jalur lain yang disebut sebagai mini-shinkansen yang antara lain adalah sebagai berikut: Yamagata Shinkansen (menghubungkan Fukushima-Shinjo) dan Akita Shinkansen (menghubungkan Morioka-Akita). Ada juga jalur kereta biasa yang tidak dirancang khusus untuk shinkansen namun dapat dilalui oleh kereta shinkansen, antara lain adalah sebagai berikut: Hakata Minami Line(menghubungkan Hakata – Hakata-minami) danGala-Yuzawa Line (secara teknis merupakan cabang dari Joetsu Line).
Selain jalur-jalur tersebut, sebetulnya masih ada beberapa jalur lain yang sedang dalam tahap pengembangan. Namun saya pending dulu sampai disini, karena kalau kepanjangan bisa puyeng duluan.
Ngomong-ngomong, ada yang penasaran nggak kenapa harus tahu tentang nama-nama jalurshinkansen? Dengan mengetahui jalur-jalur shinkansen, wisatawan memiliki pilihan rail passes yang lebih luas. Selama ini wisatawan asing cenderung mengenal JR Pass sebagai satu-satunya tiket terusan untuk naik seluruh kereta JR (termasuk shinkansen). Padahal, dengan mengetahui kemungkinan jalur yang akan diambil, banyak lho pilihan rail pass lainnya yang juga meng-cover shinkansen dan harganya jauh lebih hemat.
Tiket, tiket, dan tiket
Saat naik kereta biasa, penumpang cukup membeli 1 macam tiket. Selanjutnya tinggal duduk manis sampai tujuan, itu kalau kebagian tempat duduk. Tapi di shinkansen sistemnya agak beda. Tiket shinkansen terdiri dari beberapa sub-item. Detailnya adalah sebagai berikut:
-Tarif dasar. Tarif ini merupakan tarif standar untuk bepergian dari titik A ke B. Sama seperti kereta biasa, besaran tarif ini akan berubah sesuai dengan jarak tempuhnya.
-Shinkansen supplement. Merupakan tarif tambahan yang dikenakan untuk mengakses kereta shinkansen.
-Biaya reservasi tempat duduk. Tarif dasar yang sudah disebut di awal betul-betul murni biaya perjalanannya saja. Jika ingin melakukan reservasi tempat duduk (untuk memastikan Anda dapat tempat duduk selama perjalanan), ada biaya tambahan yang akan dikenakan. Besaran biaya tambahan ini berbeda-beda antara hari biasa dan periode liburan. Biasanya, kisarannya antara ¥320*, ¥520*, atau ¥720*. Namun jika ingin lebih hemat, bisa juga tidak melakukan reservasi alias go show langsung naik kereta. Tips lengkapnya bisa dibaca disini.
-Green car fee. Green car merupakan sebutan untuk gerbong kelas dewa, alias gerbong kelas satu. Apa bedanya dengan gerbong kelas biasa? Nanti saya jelaskan di bagian terpisah.
Jadi, saat naik kereta shinkansen, normalnya penumpang harus membayar tarif dasar+shinkansen supplement+biaya reservasi tempat duduk+green car fee (jika ingin naik gerbong kelas satu). Karena itulah setiap kali menulis tentang tiket shinkansen dalam berbagai tulisan di blog ini saya selalu menambahkan keterangan “belum termasuk biaya tempat duduk”. Tambahan info, normalnya tiket tarif dasar dan shinkansen supplement di tulis terpisah (penumpang mendapat 2 jenis tiket yang berbeda). Namun ada kalanya tiket tarif dasar dan shinkansen supplement dicantumkan dalam satu tiket. Jika menggunakan rail pass (misalnya JR Pass), penumpang sudah nggak perlu repot lagi memikirkan berapa tiket dasar maupunshinkansen supplement yang harus dibayar dan bisa melakukan reservasi tempat duduk secara cuma-cuma.
Foto 03:
(a.) Contoh tiket shinkansen [foto: Newsliner/wikimedia], (b.) Contoh tiket reservasi tempat duduk dari Tokyo ke Shin-Osaka [foto: JRHorse/wikimedia], (c.) Tiket dan keterangannya dalam bahasa Inggris [foto: Fg2/wikimedia], (d.) Contoh tiket shinkansen hikari [foto: Cassiopeia sweet/wikimedia]
Lalu dimana bisa membeli tiket shinkansen. Lanjut di trivia selanjutnya yah. Tarik nafas dulu…
***
* Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username wikimedia.
***
Kemarin saya sudah mengulas sedikit tentang sejarah awal shinkansen dan juga tentang tiketshinkansen yang ternyata terdiri dari beberapa macam harga, mulai dari tiket dasar hingga biaya reservasi tempat duduk. Trus bagaimana caranya kalau mau melakukan reservasi tempat duduk? Penting nggak sih melakukan reservasi sebelum pergi?
Reservasi, penting nggak?
Jika ditanya “penting nggak reservasi tempat duduk saat pergi dengan shinkansen”, jawabannya penting dan nggak penting. Penting bagi yang ingin bepergian dengan damai tanpa harus sikut-sikutan berebut tempat duduk dengan penumpang lainnya. Nggak penting jika memang tujuannya untuk menghemat biaya akomodasi. Soalnya, reservasi tempat duduk memang memerlukan sejumlah biaya plus-plus. Itu jika wisatawan membeli tiket on the spot. Jika sebelumnya sudah membeli tiket terusan seperti JR Pass, reservasi bisa dilakukan secara gratis. Ada 3 alternatif cara untuk melakukan reservasi:
-melalui counter tiket yang ada di berbagai stasiun JR besar (ingat, ada stasiun JR dan non-JR);
-melalui vending machine, dan
-melalui website dari perusahaan JR yang mengoperasikan jalur yang diinginkan.
Reservasi tempat duduk bisa dilakukan mulai dari 1 bulan sebelum tanggal yang diinginkan hingga sesaat sebelum pergi. Data yang dibutuhkan saat membeli tiket shinkansen biasanya sebagai berikut:
-jumlah mereka yang akan bepergian;
-tanggal keberangkatan;
-Stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan;
-Pilihan tempat duduk (biasa atau green car);
-pilihan jenis kursi (reserved atau non-reserved).
Jika memilih “reserved seat”, maka informasi yang dibutuhkan bertambah lagi dengan nama kereta dan smoking/non-smoking seat (jika ada). Pembayarannya sendiri bisa menggunakan uang tunai maupun kartu kredit.
Seputar nama kereta
Lho, memang kereta ada namanya? Khusus untukshinkansen, ya. Jadi jika mendengar nama-nama seperti Nozomi, Mizuho, Kodama, dan Tanigawa, itu belum tentu nama artis Jepang yah. Belum tentu juga nama orang Jepang, karena bisa jadi wisatawan sedang diajak kenalan dengan nama layanan kereta shinkansen.
Sama seperti halnya kereta biasa di Jepang, kereta shinkansen juga memiliki beberapa kasta. Ada kereta super cepat (hanya berhenti di beberapa stasiun besar saja), ada juga yang super lambat (berhenti di hampir setiap stasiun). Kurang lebih sama seperti keretaexpress, rapid, dan local train dalam kereta biasa. Bedanya, kereta shinkansen tidak diistilahkan dengan “express, rapid, local”, melainkan dengan nama.
Penting nggak mengetahui nama kereta yang ada di setiap jalur? Cukup penting, karena seberapa cepat Anda sampai ke tujuan sangat ditentukan oleh pilihan nama kereta shinkansen. Selain itu, biasanya kereta super cepat nggak di cover oleh JR Pass (yang notabene adalah rail pass paling populer bagi wisatawan asing). Jadi tak ada salahnya wisatawan mengetahui aneka nama kereta dan “kasta”nya agar dapat mengira-ngira kereta mana yang harus dipilih saat bepergian menggunakan shinkansen. Untuk detailnya, berikut nama jalur dan nama kereta yang beroperasi di jalur tersebut:
Tokaido Shinkasen (Tokyo/Yokohama, Nagoya, Osaka/Kyoto)
Kereta tercepat di jalur ini adalah Nozomi (Tokyo-Osaka 2,5 jam). Kereta tercepat kedua di jalur ini adalah Hikari (Tokyo-Osaka 3 jam). Kereta terlambat di jalur ini adalah shinkansen Kodama(Tokyo-Osaka 4 jam).
Foto 01:
(a.) Shinkansen Nozomi seri 500 [foto: Mitsuki-2368/wikimedia], (b.) Shinkansen Nozomi seri N700 [foto: Mitsuki-2368/wikimedia], (c.) Hikari seri 100 [foto: DAJF/wikimedia], (d.) Kodama seri 500 [foto: Rsa/wikimedia]
Sanyo Shinkansen (Shin-Osaka, Fukuoka)
Kereta tercepat di jalur ini adalah Nozomi (2,5 jam dari Shin-Osaka ke Hakata) dan Mizuho(menghubungkan Shin-Osaka dan Kagoshima-chuo). Kereta tercepat kedua adalah Hikari(menghubungkan stasiun Shin-Osaka dan Okayama) dan Sakura (Shin-Osaka ke Kagoshima-Chuo). Kodama menjadi shinkansenterlambat di jalur ini, dan membutuhkan 5 jam untuk menempuh Shin-Osaka ke Hakata. Oya, Nozomi dan Mizuho tidak di cover oleh JR Pass yah. Namun mereka di cover oleh rail pass lain seperti JR Sanyo-Shikoku-Kyushu Pass, JR West Sanyo Area Pass, dan Kyushu Rail Pass.
Foto 02:
(a.) Shinkansen seri 0 (kiri) dan N700 (kanan) di jalur Sanyo Shinkansen [foto: Pagemoral/wikimedia], (b.) Hikari Railstar [foto: Mitsuki-2368/wikimedia], (c.) Shinkansen Sakura seri 800 [foto: Veroyama/flickr], (d.) Interior Shinkansen Sakura [foto: DozoDomo/flickr]
Tohoku Shinkansen (Tokyo – Aomori)
Ada 4 kereta yang beroperasi di jalur ini, plus 2 kereta di jalur mini-shinkansen yang bergerak di jalur cabang dari Tohoku Shinkansen (yaitu Akita Shinkansen dan Yamagata Shinkansen). Saya bahas dulu 4 kereta di jalur Tohoku Shinkansen yah.
Di jalur Tohoku Shinkansen, kereta tercepatnya bernama Hayabusa. Kereta ini sekaligus menjadi yang tercepat di Jepang karena dapat melaju 320 km/jam. Hayabusa ini tak hanya membawa gerbong biasa, namun juga green car dan gran car. Apa itu green car dan gran car? Nanti saya jelaskan di bagian terpisah. Kereta tercepat kedua di jalur ini adalah Hayate, disusul dengan keretashinkansen Yamabiko. Kereta terlambat di jalur Tohoku Shinkansen adalan Nasuno yang berhenti di semua stasiun di antara Tokyo dan Koriyama.
Foto 03:
(a.) Shinkansen Hayabusa seri E5 [foto: Toshinari Baba/wikimedia], (b.) Shinkansen Hayate seri E2-1000 [foto: View751/wikimedia], (c.) Shinkansen Yamabiko seri E2 [foto: Spaceaero2/wikimedia], (d.) Shinkansen Nasuno seri E2 [foto: Rsa/wikimedia]
Untuk kereta yang bergerak di jalur minishinkansen, yaitu di jalur Akita Shinkansen dan Yamagata Shinkansen, hanya memiliki masing-masing 1 kategori kereta. Untuk jalur Akita Shinkansen, ada kereta Komachi yang bergerak di antara Tokyo-Morioka (bersama dengan Hayabusa) dan lanjut bergerak dari Morioka dan Akita. Sedangkan untuk jalur Yamagata Shinkansen, ada Tsubasa yang bergerak dari Tokyo-Fukushima (bersama dengan Yamabiko) dan lanjut dari Fukushima ke Shinjo. Oya, ada yang bingung nggak kenapa ada jalur shinkansendan mini-shinkansen? Kereta shinkansen, karena memiliki kecepatan yang sangat tinggi, bergerak di jalur khusus yang lebih lebar dari jalur kereta biasa. Sedangkan mini shinkansen bergerak di jalur kereta biasa yang sudah di konversi ke ukuran rel standar shinkansen. Sehingga, mini-shinkansen dapat bergerak hingga 320 km/jam di jalur shinkansen biasa, dan kecepatannya turun menjadi 130 km/jam saat bergerak di jalur mini-shinkansen.
Foto 04:
(a.) Shinkansen Komachi seri E6 [foto: Jerôme Laborde/wikimedia], (b.) Komachi seri E3-R13 di Stasiun Akita [foto: Tetsumaru/wikimedia], (c.) Max-Yamabiko/Tsubasa seri E3-1000 [foto: DAJF/wikimedia], (d.) Shinkansen di stasiun Yamagata [foto: Contri/wikimedia]
***
Untuk keterangan seputar jalur sisanya, menyusul yah. Rencananya saya juga akan mengulas tentang aneka tipe tempat duduk dan juga aturan dalam ber-shinkansen ria. Ditunggu yah.
***
* Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
Kemarin saya sudah mengajak ‘kenalan’ dengan nama-nama berbagai layanan kereta shinkansendi jalur Tokaido Shinkansen, Sanyo Shinkansen, dan Tohoku Shinkansen. Kali ini giliran nama-nama kereta shinkansen yang ada di jalur Joetsu Shinkansen, Nagano Shinkansen, dan Kyushu Shinkansen.
Joetsu Shinkansen (Tokyo-Niigata)
Ada 2 kereta yang beroperasi di jalur ini. Yang tercepat adalah Toki, yang bergerak di antara Tokyo dan Stasiun Niigata. Toki ini terdiri dari kereta Toki dan MAX Toki. Lho, bedanya apa? Jika kereta Toki merupakan kereta biasa, maka MAX Toki adalah shinkansen yang terdiri dari 2 tingkat. Kereta lainnya, yaitu Tanigawa, bergerak lebih lambat dibanding Toki dan berjalan di antara Tokyo dan Stasiun Echigo-Yuzawa. Sama seperti Toki, kereta Tanigawa ini terdiri dari kereta biasa dan MAX Tanigawa.
Foto 01:
(a.) Shinkansen MAX Toki 321 tipe E4 seri P14 [foto: DAJF/wikimedia], (b.) MAX Toki tipe E1 [foto: Hugovoyages/wikimedia], (c.) MAX Tanigawa [foto: Rudy Herman/wikimedia], (d.) Interior MAX Tanigawa [foto: Rudy Herman/wikimedia]
Nagano Shinkansen (Tokyo-Nagano)
Hanya ada 1 kategori kereta yang beroperasi di jalur ini, yaitu Asama. Shinkansen Asama bergerak dari Tokyo ke Nagano dengan kecepatan rata-rata 210 km/jam. Pada waktu tertentu, dioperasikan juga tipe MAX Asama yang merupakanshinkansen bertipe double decker.
Kyushu Shinkansen (Fukuoka-Kagoshima)
Kereta yang beroperasi di jalur ini rata-rata merupakan terusan dari rute Sanyo Shinkansen. Jadi nggak heran jika di jalur ini ada shinkansenMizuho sebagai kereta tercepat, disusul olehshinkansen Sakura sebagai kereta tercepat kedua. Kereta terlambat di jalur ini adalah shinkansenTsubame yang berhenti di semua stasiun antara stasiun Hakata (di Fukuoka) dan stasiun Kagoshima-Chuo (di Kagoshima).
Foto 02: Kyushu Shinkansen
(a & b.) Shinkansen Tsubame [foto: MK Products/wikimedia, Yamaguchi Yoshiaki/wikimedia], (c & d.) Interior Tsubame [foto: GFDL/wikimedia, David McKelvey/wikimedia]
Seputar tipe tempat duduk di shinkansen
Di tulisan-tulisan sebelumnya saya sudah menyinggung sekilas tentang green car, yang saya sebut sebagai kursi kelas dewa a.k.a kursi kelas 1 di shinkansen. Namun sebetulnya, dishinkansen ada 3 jenis kursi:
kursi biasa: Ini jenis kursi paling standar dishinkansen. Biasanya gerbong dengan kursi biasa ini terdiri dari 3x2 tempat duduk. Kadang-kadang ada juga sih yang tipe tempat duduknya 3x3 sehingga agak padat. Untuk ukuran dan desainnya bisa berbeda antara tipe shinkansensatu dengan lainnya. Namun kurang lebih beginilah tipikal gerbong biasa di beberapa tipeshinkansen.
Foto 03: Tipikal interior di kursi/gerbong biasa
(a.) Ordinary class non-reserved seri 500 [foto: W0746203-1/wikimedia], (b.) Ordinary class reserved seat seri 400 [foto: DAJF/wikimedia], (c.) Seri 300 [foto: Agochikuwa/wikimedia], (d.) Seri E5 [foto: Rsa/wikimedia]
Green car: kursi dengan tingkat kenyamanan di atas kursi biasa. Tempat duduknya lebih lebar dan pastinya lebih nyaman dibanding kursi biasa. Biasanya, formasi kursi di green car ini terdiri dari 2x2 tempat duduk. Oya, tiket untuk naik di gerbong green car ini jelas lebih mahal dibanding gerbong biasa, namun cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan karena gerbonggreen car biasanya lebih sepi dibanding gerbong biasa.
Foto 04: Green car di beberapa seri shinkansen
(a.) seri N700 [foto: 300VVVF/wikimedia], (b.) seri 400 [foto: DAJF/wikimedia], (c.) seri E3 [foto: DAJF/wikimedia], (d.) seri 200 [foto: DAJF/wikimedia]
Gran class: jika gerbong green car saya sebut sebagai gerbong dewa a.k.a gerbong kelas 1, maka gran car adalah gerbong bapaknya dewa. Sebetulnya gerbong inilah yang cocok disebut sebagai gerbong kelas 1. Gran class menawarkan ruang yang lebih lebar dan luas dengan format tempat duduk 2x1, sehingga wisatawan bisa menikmati bepergian dalam suasana yang lebih nyaman.
Foto 05: Gran Class di beberapa seri shinkansen
(a.) Logo gerbong Gran Class [foto: Jet-0/wikimedia], (b.) seri E7 [foto: 黄金のひばりたち/wikimedia], (c & d.) Gran Class di seri E5 [foto: Kaidog/wikimedia, Yisris/wikimedia]
Trus fasilitas standar yang ada di shinkansen apa saja?
Fasilitas standar shinkansen sama seperti fasilitas yang biasa ditemukan dalam kereta di Indonesia. Maksud saya, kereta antar kota (bukan KRL). Soalnya nggak pernah naik KRL, jadi saya nggak bisa membandingkan antara shinkansendan KRL. Adapun fasilitas standar yang saya maksud adalah toilet yang dilengkapi dengan petunjuk multi-bahasa (Jepang dan Inggris), dan kadang-kadang dilengkapi juga dengan bahasa Korea dan Cina. Bedanya dengan toilet di kereta api biasa, tolet di shinkansen kadang-kadang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Beberapashinkansen bahkan memiliki toilet untuk pengguna kursi roda dan dilengkapi dengan cermin besar.
Fasilitas standar lainnya adalah adanya makanan dan minuman ringan yang ditawarkan oleh pramugari (eh, istilah untuk di kereta apa ya?) dengan menggunakan kereta dorong. Namun, ada juga lho beberapa shinkansen yang melengkapi fasilitasnya dengan aneka vending machine. Betul-betul vending machine ada dimana-mana ya! Dan untuk shinkansen tipe terbaru, biasanya sudah ada fasilitas tambahan lain seperti wireless internet dan colokan listrik.
Foto 06:
(a.) Toilet kursi roda di shinkansen seri E6 [foto: 掬茶/wikimedia], (b.) Vending machine di seri 700 [foto: Asacyan/wikimedia], (c.) Café di seri 100 [foto: Dragonballxyz/wikimedia], (d.) Smoking room di seri 500 [foto: W0746203-1/wikimedia]
Shinkansen itu aman nggak?
Saya rasa pasti banyak yang mempertanyakan masalah keamanan shinkansen. Kereta yang berjalan jauh dibawah kecepatan shinkansen saja sering mengalami masalah teknis hingga kecelakaan. Lalu bagaimana dengan si super cepat shinkansen?
Diluar dugaan, shinkansen tergolong moda transportasi yang sangat aman. Sejak pertama diluncurkan hingga saat ini, yang berarti sudah hampir 50 tahun, belum ada (dan jangan sampai ada) kecelakaan fatal yang menimpa shinkansen. Sejauh ini masalah yang menimpa shinkansenbaru sebatas penumpang/barang bawaan penumpang terjepit oleh pintu, maupun percobaan bunuh diri.
Salah satu faktor penting dalam sistem operasional shinkansen adalah adanya sistem deteksi dini yang otomatis memberhentikan kereta jika ada gempa bumi. Maklum, Jepang termasuk salah satu negara langganan gempa bumi, sehingga dengan adanya teknologi tersebut di shinkansen, penumpang tak perlu khawatir kereta akan lepas dari rel saat terjadi gempa bumi. Memang pernah ada kejadian pada tahun 2004 dimana shinkansen melintas di dekat pusat gempa bumi dan akhirnya terlempar dari rel, namun tidak ada yang terluka. Dan nggak perlu khawatir dengan masalah pengereman mendadak, karena shinkansen tipe terkini sudah dilengkapi dengan sayap rem penahan angin. Oh iya, dan nggak perlu khawatir juga shinkansenakan bertubrukan dengan kereta lokal, karena kereta cepat ini memiliki jalurnya sendiri (kecuali untuk mini-shinkansen).
Lalu bagaimana jika musim dingin tiba? Bukankah beberapa jalur shinkansen melintasi daerah dengan curah salju tinggi? Tak perlu khawatir. Beberapa shinkansen mungkin harus mengurangi kecepatan saat turun salju, sehingga berpengaruh pada time table. Namun ada juga beberapa jalur shinkansen yang telah dilengkapi dengan sprinkler dan slab track, sehingga tak terlalu memiliki masalah untuk menembus salju setinggi 2-3 meter sekalipun.
Tata tertib ber-shinkansen ria
Sebetulnya, tata tertib di shinkansen tidak begitu berbeda dengan tata tertib di kereta lainnya. Saya pernah menulis tentang tata tertib berkereta apidisini, monggo dibaca-baca. Singkatnya sih, jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat mengganggu orang lain seperti meletakkan barang di lorong, menelepon, maupun merokok. Khusus untuk merokok, jika memang tidak tersedia gerbang maupun spot khusus untuk merokok, disarankan untuk pergi ke bagian di antara gerbong satu dengan lainnya.
Semoga infonya bermanfaat!
***
***
Sejarah awal shinkansen
Percaya nggak, kalau proyek pembangunanshinkansen sudah digagas sejak tahun 1930-an. Awalnya, proyek ini mengambil terjemahan literal dari bullet train (kereta peluru), yaitu dangan ressha. Nama shinkansen sendiri pertama dicetuskan tahun 1940-an, dan shinkansen sendiri memiliki makna “shin” = baru dan “kansen” = jaringan rel. Jadi, sebetulnya salah kaprah jika mengira nama shinkansen bermakna “kereta super cepat”, karena shinkansen sebetulnya merujuk pada nama jalurnya. Yah, mirip-mirip dengan orang salah menyebut Trans Jakarta dengan busway, yang sebetulnya istilah buswaymerujuk pada jalur Trans Jakarta. Namun di luar negara Jepang, tak sedikit juga yang menyebutshinkansen dengan istilah superexpress atau bullet train saja.
Walau sudah digagas sejak tahun 1930-an,shinkansen pertama baru beroperasi pada tahun 1960-an. Tepatnya pada 1 Oktober 1964, yaitu saat berlangsungnya Tokyo Olympics. Awalnya, kecepatan kereta ini “hanya” berkisar 210 km/jam dan bisa menempuh jarak Tokyo-Osaka hanya dalam 4 jam saja (perjalanan normal membutuhkan waktu 6 jam 40 menit). Namun saat ini shinkansen terus berevolusi dan kecepatan rata-ratanya adalah 320 km/jam, walau dalam test drive dapat mencapai 581 km/jam.
Foto 01: Shinkansen
(a.) Macam-macam model shinkansen [foto: Rdb/wikimedia], (b.) Tipe N700 & N 500 [foto: Takeshi Kuboki/wikimedia], (c.) Seri E1 [foto: Sui-setz/wikimedia], (d.) Seri E2 [foto: zh:user:pyzhou/wikimedia]
Mengenal jalur shinkansen
Ini yang mungkin belum banyak diketahui oleh traveller pada umumnya. Di Indonesia, seluruh jalur keretanya di kelola oleh pemerintah. Namun berbeda dengan jalur kereta api di Jepang yang bisa dikelola oleh swasta. Jadi jangan heran jika mengamati nama jalur kereta di Jepang, ada beberapa nama perusahaan yang nyempil ikut eksis dalam nama jalur.
Begitu juga dengan jalur shinkansen. Secara umum, jalur shinkansen dikelola oleh group Japan Railways a.k.a JR. Namun sebetulnya, jalurshinkansen dioperasikan oleh 4 perusahaan yang bergabung dalam Japan Railway, yaitu JR Central, JR West, JR East, dan JR Kyushu. Keempat operator tersebut berbagi tugas menangani enam jalur shinkansen di seluruh Jepang. Adapun keenam jalur shinkansen dan operatornya adalah sebagai berikut:
JR Central, mengelola jalur Tokaido Shinkansen(menghubungkan stasiun Tokyo dan stasiun Shin-Osaka). Total panjang jalurnya adalah 515,4 km dan pertama dibuka tahun 1964.
JR West, mengelola jalur Sanyo Shinkansen(menghubungkan stasiun Shin-Osaka dan stasiun Hakata). Total panjang jalurnya adalah 553,7 km, dan dibuka tahun 1972-1975.
JR East, mengelola jalur Tohoku Shinkansen(stasiun Tokyo-stasiun Shin Aomori), Joetsu Shinkansen (stasiun Omiya-stasiun Niigata), danNagano Shinkansen/Hokuriku Shinkansen(stasiun Takasaki-stasiun Nagano). Tohoku Shinkansen memiliki panjang jalur 674,9 km, Joetsu Shinkansen 269,5 km, dan Nagano Shinkansen/Hokuriku Shinkansen 117,4 km.
JR Kyushu, mengelola jalur Kyushu Shinkansen(menghubungkan stasiun Hakata-stasiun Kagoshima Chuo). Total panjang jalurnya adalah 256,8 km dan dibuka tahun 2004-2011.
Foto 02 (a & b.):
Peta jalur shinkansen [foto: Hisagi/wikimedia, aney/wikimedia]
Oya, untuk tambahan informasi, ada juga jalur lain yang disebut sebagai mini-shinkansen yang antara lain adalah sebagai berikut: Yamagata Shinkansen (menghubungkan Fukushima-Shinjo) dan Akita Shinkansen (menghubungkan Morioka-Akita). Ada juga jalur kereta biasa yang tidak dirancang khusus untuk shinkansen namun dapat dilalui oleh kereta shinkansen, antara lain adalah sebagai berikut: Hakata Minami Line(menghubungkan Hakata – Hakata-minami) danGala-Yuzawa Line (secara teknis merupakan cabang dari Joetsu Line).
Selain jalur-jalur tersebut, sebetulnya masih ada beberapa jalur lain yang sedang dalam tahap pengembangan. Namun saya pending dulu sampai disini, karena kalau kepanjangan bisa puyeng duluan.
Ngomong-ngomong, ada yang penasaran nggak kenapa harus tahu tentang nama-nama jalurshinkansen? Dengan mengetahui jalur-jalur shinkansen, wisatawan memiliki pilihan rail passes yang lebih luas. Selama ini wisatawan asing cenderung mengenal JR Pass sebagai satu-satunya tiket terusan untuk naik seluruh kereta JR (termasuk shinkansen). Padahal, dengan mengetahui kemungkinan jalur yang akan diambil, banyak lho pilihan rail pass lainnya yang juga meng-cover shinkansen dan harganya jauh lebih hemat.
Tiket, tiket, dan tiket
Saat naik kereta biasa, penumpang cukup membeli 1 macam tiket. Selanjutnya tinggal duduk manis sampai tujuan, itu kalau kebagian tempat duduk. Tapi di shinkansen sistemnya agak beda. Tiket shinkansen terdiri dari beberapa sub-item. Detailnya adalah sebagai berikut:
-Tarif dasar. Tarif ini merupakan tarif standar untuk bepergian dari titik A ke B. Sama seperti kereta biasa, besaran tarif ini akan berubah sesuai dengan jarak tempuhnya.
-Shinkansen supplement. Merupakan tarif tambahan yang dikenakan untuk mengakses kereta shinkansen.
-Biaya reservasi tempat duduk. Tarif dasar yang sudah disebut di awal betul-betul murni biaya perjalanannya saja. Jika ingin melakukan reservasi tempat duduk (untuk memastikan Anda dapat tempat duduk selama perjalanan), ada biaya tambahan yang akan dikenakan. Besaran biaya tambahan ini berbeda-beda antara hari biasa dan periode liburan. Biasanya, kisarannya antara ¥320*, ¥520*, atau ¥720*. Namun jika ingin lebih hemat, bisa juga tidak melakukan reservasi alias go show langsung naik kereta. Tips lengkapnya bisa dibaca disini.
-Green car fee. Green car merupakan sebutan untuk gerbong kelas dewa, alias gerbong kelas satu. Apa bedanya dengan gerbong kelas biasa? Nanti saya jelaskan di bagian terpisah.
Jadi, saat naik kereta shinkansen, normalnya penumpang harus membayar tarif dasar+shinkansen supplement+biaya reservasi tempat duduk+green car fee (jika ingin naik gerbong kelas satu). Karena itulah setiap kali menulis tentang tiket shinkansen dalam berbagai tulisan di blog ini saya selalu menambahkan keterangan “belum termasuk biaya tempat duduk”. Tambahan info, normalnya tiket tarif dasar dan shinkansen supplement di tulis terpisah (penumpang mendapat 2 jenis tiket yang berbeda). Namun ada kalanya tiket tarif dasar dan shinkansen supplement dicantumkan dalam satu tiket. Jika menggunakan rail pass (misalnya JR Pass), penumpang sudah nggak perlu repot lagi memikirkan berapa tiket dasar maupunshinkansen supplement yang harus dibayar dan bisa melakukan reservasi tempat duduk secara cuma-cuma.
Foto 03:
(a.) Contoh tiket shinkansen [foto: Newsliner/wikimedia], (b.) Contoh tiket reservasi tempat duduk dari Tokyo ke Shin-Osaka [foto: JRHorse/wikimedia], (c.) Tiket dan keterangannya dalam bahasa Inggris [foto: Fg2/wikimedia], (d.) Contoh tiket shinkansen hikari [foto: Cassiopeia sweet/wikimedia]
Lalu dimana bisa membeli tiket shinkansen. Lanjut di trivia selanjutnya yah. Tarik nafas dulu…
***
* Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username wikimedia.
***
Kemarin saya sudah mengulas sedikit tentang sejarah awal shinkansen dan juga tentang tiketshinkansen yang ternyata terdiri dari beberapa macam harga, mulai dari tiket dasar hingga biaya reservasi tempat duduk. Trus bagaimana caranya kalau mau melakukan reservasi tempat duduk? Penting nggak sih melakukan reservasi sebelum pergi?
Reservasi, penting nggak?
Jika ditanya “penting nggak reservasi tempat duduk saat pergi dengan shinkansen”, jawabannya penting dan nggak penting. Penting bagi yang ingin bepergian dengan damai tanpa harus sikut-sikutan berebut tempat duduk dengan penumpang lainnya. Nggak penting jika memang tujuannya untuk menghemat biaya akomodasi. Soalnya, reservasi tempat duduk memang memerlukan sejumlah biaya plus-plus. Itu jika wisatawan membeli tiket on the spot. Jika sebelumnya sudah membeli tiket terusan seperti JR Pass, reservasi bisa dilakukan secara gratis. Ada 3 alternatif cara untuk melakukan reservasi:
-melalui counter tiket yang ada di berbagai stasiun JR besar (ingat, ada stasiun JR dan non-JR);
-melalui vending machine, dan
-melalui website dari perusahaan JR yang mengoperasikan jalur yang diinginkan.
Reservasi tempat duduk bisa dilakukan mulai dari 1 bulan sebelum tanggal yang diinginkan hingga sesaat sebelum pergi. Data yang dibutuhkan saat membeli tiket shinkansen biasanya sebagai berikut:
-jumlah mereka yang akan bepergian;
-tanggal keberangkatan;
-Stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan;
-Pilihan tempat duduk (biasa atau green car);
-pilihan jenis kursi (reserved atau non-reserved).
Jika memilih “reserved seat”, maka informasi yang dibutuhkan bertambah lagi dengan nama kereta dan smoking/non-smoking seat (jika ada). Pembayarannya sendiri bisa menggunakan uang tunai maupun kartu kredit.
Seputar nama kereta
Lho, memang kereta ada namanya? Khusus untukshinkansen, ya. Jadi jika mendengar nama-nama seperti Nozomi, Mizuho, Kodama, dan Tanigawa, itu belum tentu nama artis Jepang yah. Belum tentu juga nama orang Jepang, karena bisa jadi wisatawan sedang diajak kenalan dengan nama layanan kereta shinkansen.
Sama seperti halnya kereta biasa di Jepang, kereta shinkansen juga memiliki beberapa kasta. Ada kereta super cepat (hanya berhenti di beberapa stasiun besar saja), ada juga yang super lambat (berhenti di hampir setiap stasiun). Kurang lebih sama seperti keretaexpress, rapid, dan local train dalam kereta biasa. Bedanya, kereta shinkansen tidak diistilahkan dengan “express, rapid, local”, melainkan dengan nama.
Penting nggak mengetahui nama kereta yang ada di setiap jalur? Cukup penting, karena seberapa cepat Anda sampai ke tujuan sangat ditentukan oleh pilihan nama kereta shinkansen. Selain itu, biasanya kereta super cepat nggak di cover oleh JR Pass (yang notabene adalah rail pass paling populer bagi wisatawan asing). Jadi tak ada salahnya wisatawan mengetahui aneka nama kereta dan “kasta”nya agar dapat mengira-ngira kereta mana yang harus dipilih saat bepergian menggunakan shinkansen. Untuk detailnya, berikut nama jalur dan nama kereta yang beroperasi di jalur tersebut:
Tokaido Shinkasen (Tokyo/Yokohama, Nagoya, Osaka/Kyoto)
Kereta tercepat di jalur ini adalah Nozomi (Tokyo-Osaka 2,5 jam). Kereta tercepat kedua di jalur ini adalah Hikari (Tokyo-Osaka 3 jam). Kereta terlambat di jalur ini adalah shinkansen Kodama(Tokyo-Osaka 4 jam).
Sanyo Shinkansen (Shin-Osaka, Fukuoka)
Kereta tercepat di jalur ini adalah Nozomi (2,5 jam dari Shin-Osaka ke Hakata) dan Mizuho(menghubungkan Shin-Osaka dan Kagoshima-chuo). Kereta tercepat kedua adalah Hikari(menghubungkan stasiun Shin-Osaka dan Okayama) dan Sakura (Shin-Osaka ke Kagoshima-Chuo). Kodama menjadi shinkansenterlambat di jalur ini, dan membutuhkan 5 jam untuk menempuh Shin-Osaka ke Hakata. Oya, Nozomi dan Mizuho tidak di cover oleh JR Pass yah. Namun mereka di cover oleh rail pass lain seperti JR Sanyo-Shikoku-Kyushu Pass, JR West Sanyo Area Pass, dan Kyushu Rail Pass.
Tohoku Shinkansen (Tokyo – Aomori)
Ada 4 kereta yang beroperasi di jalur ini, plus 2 kereta di jalur mini-shinkansen yang bergerak di jalur cabang dari Tohoku Shinkansen (yaitu Akita Shinkansen dan Yamagata Shinkansen). Saya bahas dulu 4 kereta di jalur Tohoku Shinkansen yah.
Di jalur Tohoku Shinkansen, kereta tercepatnya bernama Hayabusa. Kereta ini sekaligus menjadi yang tercepat di Jepang karena dapat melaju 320 km/jam. Hayabusa ini tak hanya membawa gerbong biasa, namun juga green car dan gran car. Apa itu green car dan gran car? Nanti saya jelaskan di bagian terpisah. Kereta tercepat kedua di jalur ini adalah Hayate, disusul dengan keretashinkansen Yamabiko. Kereta terlambat di jalur Tohoku Shinkansen adalan Nasuno yang berhenti di semua stasiun di antara Tokyo dan Koriyama.
Untuk kereta yang bergerak di jalur minishinkansen, yaitu di jalur Akita Shinkansen dan Yamagata Shinkansen, hanya memiliki masing-masing 1 kategori kereta. Untuk jalur Akita Shinkansen, ada kereta Komachi yang bergerak di antara Tokyo-Morioka (bersama dengan Hayabusa) dan lanjut bergerak dari Morioka dan Akita. Sedangkan untuk jalur Yamagata Shinkansen, ada Tsubasa yang bergerak dari Tokyo-Fukushima (bersama dengan Yamabiko) dan lanjut dari Fukushima ke Shinjo. Oya, ada yang bingung nggak kenapa ada jalur shinkansendan mini-shinkansen? Kereta shinkansen, karena memiliki kecepatan yang sangat tinggi, bergerak di jalur khusus yang lebih lebar dari jalur kereta biasa. Sedangkan mini shinkansen bergerak di jalur kereta biasa yang sudah di konversi ke ukuran rel standar shinkansen. Sehingga, mini-shinkansen dapat bergerak hingga 320 km/jam di jalur shinkansen biasa, dan kecepatannya turun menjadi 130 km/jam saat bergerak di jalur mini-shinkansen.
Untuk keterangan seputar jalur sisanya, menyusul yah. Rencananya saya juga akan mengulas tentang aneka tipe tempat duduk dan juga aturan dalam ber-shinkansen ria. Ditunggu yah.
* Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
Kemarin saya sudah mengajak ‘kenalan’ dengan nama-nama berbagai layanan kereta shinkansendi jalur Tokaido Shinkansen, Sanyo Shinkansen, dan Tohoku Shinkansen. Kali ini giliran nama-nama kereta shinkansen yang ada di jalur Joetsu Shinkansen, Nagano Shinkansen, dan Kyushu Shinkansen.
Joetsu Shinkansen (Tokyo-Niigata)
Ada 2 kereta yang beroperasi di jalur ini. Yang tercepat adalah Toki, yang bergerak di antara Tokyo dan Stasiun Niigata. Toki ini terdiri dari kereta Toki dan MAX Toki. Lho, bedanya apa? Jika kereta Toki merupakan kereta biasa, maka MAX Toki adalah shinkansen yang terdiri dari 2 tingkat. Kereta lainnya, yaitu Tanigawa, bergerak lebih lambat dibanding Toki dan berjalan di antara Tokyo dan Stasiun Echigo-Yuzawa. Sama seperti Toki, kereta Tanigawa ini terdiri dari kereta biasa dan MAX Tanigawa.
Nagano Shinkansen (Tokyo-Nagano)
Hanya ada 1 kategori kereta yang beroperasi di jalur ini, yaitu Asama. Shinkansen Asama bergerak dari Tokyo ke Nagano dengan kecepatan rata-rata 210 km/jam. Pada waktu tertentu, dioperasikan juga tipe MAX Asama yang merupakanshinkansen bertipe double decker.
Kyushu Shinkansen (Fukuoka-Kagoshima)
Kereta yang beroperasi di jalur ini rata-rata merupakan terusan dari rute Sanyo Shinkansen. Jadi nggak heran jika di jalur ini ada shinkansenMizuho sebagai kereta tercepat, disusul olehshinkansen Sakura sebagai kereta tercepat kedua. Kereta terlambat di jalur ini adalah shinkansenTsubame yang berhenti di semua stasiun antara stasiun Hakata (di Fukuoka) dan stasiun Kagoshima-Chuo (di Kagoshima).
Seputar tipe tempat duduk di shinkansen
Di tulisan-tulisan sebelumnya saya sudah menyinggung sekilas tentang green car, yang saya sebut sebagai kursi kelas dewa a.k.a kursi kelas 1 di shinkansen. Namun sebetulnya, dishinkansen ada 3 jenis kursi:
kursi biasa: Ini jenis kursi paling standar dishinkansen. Biasanya gerbong dengan kursi biasa ini terdiri dari 3x2 tempat duduk. Kadang-kadang ada juga sih yang tipe tempat duduknya 3x3 sehingga agak padat. Untuk ukuran dan desainnya bisa berbeda antara tipe shinkansensatu dengan lainnya. Namun kurang lebih beginilah tipikal gerbong biasa di beberapa tipeshinkansen.
Green car: kursi dengan tingkat kenyamanan di atas kursi biasa. Tempat duduknya lebih lebar dan pastinya lebih nyaman dibanding kursi biasa. Biasanya, formasi kursi di green car ini terdiri dari 2x2 tempat duduk. Oya, tiket untuk naik di gerbong green car ini jelas lebih mahal dibanding gerbong biasa, namun cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan karena gerbonggreen car biasanya lebih sepi dibanding gerbong biasa.
Gran class: jika gerbong green car saya sebut sebagai gerbong dewa a.k.a gerbong kelas 1, maka gran car adalah gerbong bapaknya dewa. Sebetulnya gerbong inilah yang cocok disebut sebagai gerbong kelas 1. Gran class menawarkan ruang yang lebih lebar dan luas dengan format tempat duduk 2x1, sehingga wisatawan bisa menikmati bepergian dalam suasana yang lebih nyaman.
Trus fasilitas standar yang ada di shinkansen apa saja?
Fasilitas standar shinkansen sama seperti fasilitas yang biasa ditemukan dalam kereta di Indonesia. Maksud saya, kereta antar kota (bukan KRL). Soalnya nggak pernah naik KRL, jadi saya nggak bisa membandingkan antara shinkansendan KRL. Adapun fasilitas standar yang saya maksud adalah toilet yang dilengkapi dengan petunjuk multi-bahasa (Jepang dan Inggris), dan kadang-kadang dilengkapi juga dengan bahasa Korea dan Cina. Bedanya dengan toilet di kereta api biasa, tolet di shinkansen kadang-kadang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Beberapashinkansen bahkan memiliki toilet untuk pengguna kursi roda dan dilengkapi dengan cermin besar.
Fasilitas standar lainnya adalah adanya makanan dan minuman ringan yang ditawarkan oleh pramugari (eh, istilah untuk di kereta apa ya?) dengan menggunakan kereta dorong. Namun, ada juga lho beberapa shinkansen yang melengkapi fasilitasnya dengan aneka vending machine. Betul-betul vending machine ada dimana-mana ya! Dan untuk shinkansen tipe terbaru, biasanya sudah ada fasilitas tambahan lain seperti wireless internet dan colokan listrik.
Shinkansen itu aman nggak?
Saya rasa pasti banyak yang mempertanyakan masalah keamanan shinkansen. Kereta yang berjalan jauh dibawah kecepatan shinkansen saja sering mengalami masalah teknis hingga kecelakaan. Lalu bagaimana dengan si super cepat shinkansen?
Diluar dugaan, shinkansen tergolong moda transportasi yang sangat aman. Sejak pertama diluncurkan hingga saat ini, yang berarti sudah hampir 50 tahun, belum ada (dan jangan sampai ada) kecelakaan fatal yang menimpa shinkansen. Sejauh ini masalah yang menimpa shinkansenbaru sebatas penumpang/barang bawaan penumpang terjepit oleh pintu, maupun percobaan bunuh diri.
Salah satu faktor penting dalam sistem operasional shinkansen adalah adanya sistem deteksi dini yang otomatis memberhentikan kereta jika ada gempa bumi. Maklum, Jepang termasuk salah satu negara langganan gempa bumi, sehingga dengan adanya teknologi tersebut di shinkansen, penumpang tak perlu khawatir kereta akan lepas dari rel saat terjadi gempa bumi. Memang pernah ada kejadian pada tahun 2004 dimana shinkansen melintas di dekat pusat gempa bumi dan akhirnya terlempar dari rel, namun tidak ada yang terluka. Dan nggak perlu khawatir dengan masalah pengereman mendadak, karena shinkansen tipe terkini sudah dilengkapi dengan sayap rem penahan angin. Oh iya, dan nggak perlu khawatir juga shinkansenakan bertubrukan dengan kereta lokal, karena kereta cepat ini memiliki jalurnya sendiri (kecuali untuk mini-shinkansen).
Lalu bagaimana jika musim dingin tiba? Bukankah beberapa jalur shinkansen melintasi daerah dengan curah salju tinggi? Tak perlu khawatir. Beberapa shinkansen mungkin harus mengurangi kecepatan saat turun salju, sehingga berpengaruh pada time table. Namun ada juga beberapa jalur shinkansen yang telah dilengkapi dengan sprinkler dan slab track, sehingga tak terlalu memiliki masalah untuk menembus salju setinggi 2-3 meter sekalipun.
Tata tertib ber-shinkansen ria
Sebetulnya, tata tertib di shinkansen tidak begitu berbeda dengan tata tertib di kereta lainnya. Saya pernah menulis tentang tata tertib berkereta apidisini, monggo dibaca-baca. Singkatnya sih, jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat mengganggu orang lain seperti meletakkan barang di lorong, menelepon, maupun merokok. Khusus untuk merokok, jika memang tidak tersedia gerbang maupun spot khusus untuk merokok, disarankan untuk pergi ke bagian di antara gerbong satu dengan lainnya.
Semoga infonya bermanfaat!
Reservasi, penting nggak?
Jika ditanya “penting nggak reservasi tempat duduk saat pergi dengan shinkansen”, jawabannya penting dan nggak penting. Penting bagi yang ingin bepergian dengan damai tanpa harus sikut-sikutan berebut tempat duduk dengan penumpang lainnya. Nggak penting jika memang tujuannya untuk menghemat biaya akomodasi. Soalnya, reservasi tempat duduk memang memerlukan sejumlah biaya plus-plus. Itu jika wisatawan membeli tiket on the spot. Jika sebelumnya sudah membeli tiket terusan seperti JR Pass, reservasi bisa dilakukan secara gratis. Ada 3 alternatif cara untuk melakukan reservasi:
-melalui counter tiket yang ada di berbagai stasiun JR besar (ingat, ada stasiun JR dan non-JR);
-melalui vending machine, dan
-melalui website dari perusahaan JR yang mengoperasikan jalur yang diinginkan.
Reservasi tempat duduk bisa dilakukan mulai dari 1 bulan sebelum tanggal yang diinginkan hingga sesaat sebelum pergi. Data yang dibutuhkan saat membeli tiket shinkansen biasanya sebagai berikut:
-jumlah mereka yang akan bepergian;
-tanggal keberangkatan;
-Stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan;
-Pilihan tempat duduk (biasa atau green car);
-pilihan jenis kursi (reserved atau non-reserved).
Jika memilih “reserved seat”, maka informasi yang dibutuhkan bertambah lagi dengan nama kereta dan smoking/non-smoking seat (jika ada). Pembayarannya sendiri bisa menggunakan uang tunai maupun kartu kredit.
Seputar nama kereta
Lho, memang kereta ada namanya? Khusus untukshinkansen, ya. Jadi jika mendengar nama-nama seperti Nozomi, Mizuho, Kodama, dan Tanigawa, itu belum tentu nama artis Jepang yah. Belum tentu juga nama orang Jepang, karena bisa jadi wisatawan sedang diajak kenalan dengan nama layanan kereta shinkansen.
Sama seperti halnya kereta biasa di Jepang, kereta shinkansen juga memiliki beberapa kasta. Ada kereta super cepat (hanya berhenti di beberapa stasiun besar saja), ada juga yang super lambat (berhenti di hampir setiap stasiun). Kurang lebih sama seperti keretaexpress, rapid, dan local train dalam kereta biasa. Bedanya, kereta shinkansen tidak diistilahkan dengan “express, rapid, local”, melainkan dengan nama.
Penting nggak mengetahui nama kereta yang ada di setiap jalur? Cukup penting, karena seberapa cepat Anda sampai ke tujuan sangat ditentukan oleh pilihan nama kereta shinkansen. Selain itu, biasanya kereta super cepat nggak di cover oleh JR Pass (yang notabene adalah rail pass paling populer bagi wisatawan asing). Jadi tak ada salahnya wisatawan mengetahui aneka nama kereta dan “kasta”nya agar dapat mengira-ngira kereta mana yang harus dipilih saat bepergian menggunakan shinkansen. Untuk detailnya, berikut nama jalur dan nama kereta yang beroperasi di jalur tersebut:
Tokaido Shinkasen (Tokyo/Yokohama, Nagoya, Osaka/Kyoto)
Kereta tercepat di jalur ini adalah Nozomi (Tokyo-Osaka 2,5 jam). Kereta tercepat kedua di jalur ini adalah Hikari (Tokyo-Osaka 3 jam). Kereta terlambat di jalur ini adalah shinkansen Kodama(Tokyo-Osaka 4 jam).
Foto 01:
(a.) Shinkansen Nozomi seri 500 [foto: Mitsuki-2368/wikimedia], (b.) Shinkansen Nozomi seri N700 [foto: Mitsuki-2368/wikimedia], (c.) Hikari seri 100 [foto: DAJF/wikimedia], (d.) Kodama seri 500 [foto: Rsa/wikimedia]
Sanyo Shinkansen (Shin-Osaka, Fukuoka)
Kereta tercepat di jalur ini adalah Nozomi (2,5 jam dari Shin-Osaka ke Hakata) dan Mizuho(menghubungkan Shin-Osaka dan Kagoshima-chuo). Kereta tercepat kedua adalah Hikari(menghubungkan stasiun Shin-Osaka dan Okayama) dan Sakura (Shin-Osaka ke Kagoshima-Chuo). Kodama menjadi shinkansenterlambat di jalur ini, dan membutuhkan 5 jam untuk menempuh Shin-Osaka ke Hakata. Oya, Nozomi dan Mizuho tidak di cover oleh JR Pass yah. Namun mereka di cover oleh rail pass lain seperti JR Sanyo-Shikoku-Kyushu Pass, JR West Sanyo Area Pass, dan Kyushu Rail Pass.
Foto 02:
(a.) Shinkansen seri 0 (kiri) dan N700 (kanan) di jalur Sanyo Shinkansen [foto: Pagemoral/wikimedia], (b.) Hikari Railstar [foto: Mitsuki-2368/wikimedia], (c.) Shinkansen Sakura seri 800 [foto: Veroyama/flickr], (d.) Interior Shinkansen Sakura [foto: DozoDomo/flickr]
Tohoku Shinkansen (Tokyo – Aomori)
Ada 4 kereta yang beroperasi di jalur ini, plus 2 kereta di jalur mini-shinkansen yang bergerak di jalur cabang dari Tohoku Shinkansen (yaitu Akita Shinkansen dan Yamagata Shinkansen). Saya bahas dulu 4 kereta di jalur Tohoku Shinkansen yah.
Di jalur Tohoku Shinkansen, kereta tercepatnya bernama Hayabusa. Kereta ini sekaligus menjadi yang tercepat di Jepang karena dapat melaju 320 km/jam. Hayabusa ini tak hanya membawa gerbong biasa, namun juga green car dan gran car. Apa itu green car dan gran car? Nanti saya jelaskan di bagian terpisah. Kereta tercepat kedua di jalur ini adalah Hayate, disusul dengan keretashinkansen Yamabiko. Kereta terlambat di jalur Tohoku Shinkansen adalan Nasuno yang berhenti di semua stasiun di antara Tokyo dan Koriyama.
Foto 03:
(a.) Shinkansen Hayabusa seri E5 [foto: Toshinari Baba/wikimedia], (b.) Shinkansen Hayate seri E2-1000 [foto: View751/wikimedia], (c.) Shinkansen Yamabiko seri E2 [foto: Spaceaero2/wikimedia], (d.) Shinkansen Nasuno seri E2 [foto: Rsa/wikimedia]
Untuk kereta yang bergerak di jalur minishinkansen, yaitu di jalur Akita Shinkansen dan Yamagata Shinkansen, hanya memiliki masing-masing 1 kategori kereta. Untuk jalur Akita Shinkansen, ada kereta Komachi yang bergerak di antara Tokyo-Morioka (bersama dengan Hayabusa) dan lanjut bergerak dari Morioka dan Akita. Sedangkan untuk jalur Yamagata Shinkansen, ada Tsubasa yang bergerak dari Tokyo-Fukushima (bersama dengan Yamabiko) dan lanjut dari Fukushima ke Shinjo. Oya, ada yang bingung nggak kenapa ada jalur shinkansendan mini-shinkansen? Kereta shinkansen, karena memiliki kecepatan yang sangat tinggi, bergerak di jalur khusus yang lebih lebar dari jalur kereta biasa. Sedangkan mini shinkansen bergerak di jalur kereta biasa yang sudah di konversi ke ukuran rel standar shinkansen. Sehingga, mini-shinkansen dapat bergerak hingga 320 km/jam di jalur shinkansen biasa, dan kecepatannya turun menjadi 130 km/jam saat bergerak di jalur mini-shinkansen.
Foto 04:
(a.) Shinkansen Komachi seri E6 [foto: Jerôme Laborde/wikimedia], (b.) Komachi seri E3-R13 di Stasiun Akita [foto: Tetsumaru/wikimedia], (c.) Max-Yamabiko/Tsubasa seri E3-1000 [foto: DAJF/wikimedia], (d.) Shinkansen di stasiun Yamagata [foto: Contri/wikimedia]
***
Untuk keterangan seputar jalur sisanya, menyusul yah. Rencananya saya juga akan mengulas tentang aneka tipe tempat duduk dan juga aturan dalam ber-shinkansen ria. Ditunggu yah.
***
* Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
Kemarin saya sudah mengajak ‘kenalan’ dengan nama-nama berbagai layanan kereta shinkansendi jalur Tokaido Shinkansen, Sanyo Shinkansen, dan Tohoku Shinkansen. Kali ini giliran nama-nama kereta shinkansen yang ada di jalur Joetsu Shinkansen, Nagano Shinkansen, dan Kyushu Shinkansen.
Joetsu Shinkansen (Tokyo-Niigata)
Ada 2 kereta yang beroperasi di jalur ini. Yang tercepat adalah Toki, yang bergerak di antara Tokyo dan Stasiun Niigata. Toki ini terdiri dari kereta Toki dan MAX Toki. Lho, bedanya apa? Jika kereta Toki merupakan kereta biasa, maka MAX Toki adalah shinkansen yang terdiri dari 2 tingkat. Kereta lainnya, yaitu Tanigawa, bergerak lebih lambat dibanding Toki dan berjalan di antara Tokyo dan Stasiun Echigo-Yuzawa. Sama seperti Toki, kereta Tanigawa ini terdiri dari kereta biasa dan MAX Tanigawa.
Foto 01:
(a.) Shinkansen MAX Toki 321 tipe E4 seri P14 [foto: DAJF/wikimedia], (b.) MAX Toki tipe E1 [foto: Hugovoyages/wikimedia], (c.) MAX Tanigawa [foto: Rudy Herman/wikimedia], (d.) Interior MAX Tanigawa [foto: Rudy Herman/wikimedia]
Nagano Shinkansen (Tokyo-Nagano)
Hanya ada 1 kategori kereta yang beroperasi di jalur ini, yaitu Asama. Shinkansen Asama bergerak dari Tokyo ke Nagano dengan kecepatan rata-rata 210 km/jam. Pada waktu tertentu, dioperasikan juga tipe MAX Asama yang merupakanshinkansen bertipe double decker.
Kyushu Shinkansen (Fukuoka-Kagoshima)
Kereta yang beroperasi di jalur ini rata-rata merupakan terusan dari rute Sanyo Shinkansen. Jadi nggak heran jika di jalur ini ada shinkansenMizuho sebagai kereta tercepat, disusul olehshinkansen Sakura sebagai kereta tercepat kedua. Kereta terlambat di jalur ini adalah shinkansenTsubame yang berhenti di semua stasiun antara stasiun Hakata (di Fukuoka) dan stasiun Kagoshima-Chuo (di Kagoshima).
Foto 02: Kyushu Shinkansen
(a & b.) Shinkansen Tsubame [foto: MK Products/wikimedia, Yamaguchi Yoshiaki/wikimedia], (c & d.) Interior Tsubame [foto: GFDL/wikimedia, David McKelvey/wikimedia]
Seputar tipe tempat duduk di shinkansen
Di tulisan-tulisan sebelumnya saya sudah menyinggung sekilas tentang green car, yang saya sebut sebagai kursi kelas dewa a.k.a kursi kelas 1 di shinkansen. Namun sebetulnya, dishinkansen ada 3 jenis kursi:
kursi biasa: Ini jenis kursi paling standar dishinkansen. Biasanya gerbong dengan kursi biasa ini terdiri dari 3x2 tempat duduk. Kadang-kadang ada juga sih yang tipe tempat duduknya 3x3 sehingga agak padat. Untuk ukuran dan desainnya bisa berbeda antara tipe shinkansensatu dengan lainnya. Namun kurang lebih beginilah tipikal gerbong biasa di beberapa tipeshinkansen.
Foto 03: Tipikal interior di kursi/gerbong biasa
(a.) Ordinary class non-reserved seri 500 [foto: W0746203-1/wikimedia], (b.) Ordinary class reserved seat seri 400 [foto: DAJF/wikimedia], (c.) Seri 300 [foto: Agochikuwa/wikimedia], (d.) Seri E5 [foto: Rsa/wikimedia]
Green car: kursi dengan tingkat kenyamanan di atas kursi biasa. Tempat duduknya lebih lebar dan pastinya lebih nyaman dibanding kursi biasa. Biasanya, formasi kursi di green car ini terdiri dari 2x2 tempat duduk. Oya, tiket untuk naik di gerbong green car ini jelas lebih mahal dibanding gerbong biasa, namun cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan karena gerbonggreen car biasanya lebih sepi dibanding gerbong biasa.
Foto 04: Green car di beberapa seri shinkansen
(a.) seri N700 [foto: 300VVVF/wikimedia], (b.) seri 400 [foto: DAJF/wikimedia], (c.) seri E3 [foto: DAJF/wikimedia], (d.) seri 200 [foto: DAJF/wikimedia]
Gran class: jika gerbong green car saya sebut sebagai gerbong dewa a.k.a gerbong kelas 1, maka gran car adalah gerbong bapaknya dewa. Sebetulnya gerbong inilah yang cocok disebut sebagai gerbong kelas 1. Gran class menawarkan ruang yang lebih lebar dan luas dengan format tempat duduk 2x1, sehingga wisatawan bisa menikmati bepergian dalam suasana yang lebih nyaman.
Foto 05: Gran Class di beberapa seri shinkansen
(a.) Logo gerbong Gran Class [foto: Jet-0/wikimedia], (b.) seri E7 [foto: 黄金のひばりたち/wikimedia], (c & d.) Gran Class di seri E5 [foto: Kaidog/wikimedia, Yisris/wikimedia]
Trus fasilitas standar yang ada di shinkansen apa saja?
Fasilitas standar shinkansen sama seperti fasilitas yang biasa ditemukan dalam kereta di Indonesia. Maksud saya, kereta antar kota (bukan KRL). Soalnya nggak pernah naik KRL, jadi saya nggak bisa membandingkan antara shinkansendan KRL. Adapun fasilitas standar yang saya maksud adalah toilet yang dilengkapi dengan petunjuk multi-bahasa (Jepang dan Inggris), dan kadang-kadang dilengkapi juga dengan bahasa Korea dan Cina. Bedanya dengan toilet di kereta api biasa, tolet di shinkansen kadang-kadang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Beberapashinkansen bahkan memiliki toilet untuk pengguna kursi roda dan dilengkapi dengan cermin besar.
Fasilitas standar lainnya adalah adanya makanan dan minuman ringan yang ditawarkan oleh pramugari (eh, istilah untuk di kereta apa ya?) dengan menggunakan kereta dorong. Namun, ada juga lho beberapa shinkansen yang melengkapi fasilitasnya dengan aneka vending machine. Betul-betul vending machine ada dimana-mana ya! Dan untuk shinkansen tipe terbaru, biasanya sudah ada fasilitas tambahan lain seperti wireless internet dan colokan listrik.
Foto 06:
(a.) Toilet kursi roda di shinkansen seri E6 [foto: 掬茶/wikimedia], (b.) Vending machine di seri 700 [foto: Asacyan/wikimedia], (c.) Café di seri 100 [foto: Dragonballxyz/wikimedia], (d.) Smoking room di seri 500 [foto: W0746203-1/wikimedia]
Shinkansen itu aman nggak?
Saya rasa pasti banyak yang mempertanyakan masalah keamanan shinkansen. Kereta yang berjalan jauh dibawah kecepatan shinkansen saja sering mengalami masalah teknis hingga kecelakaan. Lalu bagaimana dengan si super cepat shinkansen?
Diluar dugaan, shinkansen tergolong moda transportasi yang sangat aman. Sejak pertama diluncurkan hingga saat ini, yang berarti sudah hampir 50 tahun, belum ada (dan jangan sampai ada) kecelakaan fatal yang menimpa shinkansen. Sejauh ini masalah yang menimpa shinkansenbaru sebatas penumpang/barang bawaan penumpang terjepit oleh pintu, maupun percobaan bunuh diri.
Salah satu faktor penting dalam sistem operasional shinkansen adalah adanya sistem deteksi dini yang otomatis memberhentikan kereta jika ada gempa bumi. Maklum, Jepang termasuk salah satu negara langganan gempa bumi, sehingga dengan adanya teknologi tersebut di shinkansen, penumpang tak perlu khawatir kereta akan lepas dari rel saat terjadi gempa bumi. Memang pernah ada kejadian pada tahun 2004 dimana shinkansen melintas di dekat pusat gempa bumi dan akhirnya terlempar dari rel, namun tidak ada yang terluka. Dan nggak perlu khawatir dengan masalah pengereman mendadak, karena shinkansen tipe terkini sudah dilengkapi dengan sayap rem penahan angin. Oh iya, dan nggak perlu khawatir juga shinkansenakan bertubrukan dengan kereta lokal, karena kereta cepat ini memiliki jalurnya sendiri (kecuali untuk mini-shinkansen).
Lalu bagaimana jika musim dingin tiba? Bukankah beberapa jalur shinkansen melintasi daerah dengan curah salju tinggi? Tak perlu khawatir. Beberapa shinkansen mungkin harus mengurangi kecepatan saat turun salju, sehingga berpengaruh pada time table. Namun ada juga beberapa jalur shinkansen yang telah dilengkapi dengan sprinkler dan slab track, sehingga tak terlalu memiliki masalah untuk menembus salju setinggi 2-3 meter sekalipun.
Tata tertib ber-shinkansen ria
Sebetulnya, tata tertib di shinkansen tidak begitu berbeda dengan tata tertib di kereta lainnya. Saya pernah menulis tentang tata tertib berkereta apidisini, monggo dibaca-baca. Singkatnya sih, jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat mengganggu orang lain seperti meletakkan barang di lorong, menelepon, maupun merokok. Khusus untuk merokok, jika memang tidak tersedia gerbang maupun spot khusus untuk merokok, disarankan untuk pergi ke bagian di antara gerbong satu dengan lainnya.
Semoga infonya bermanfaat!
***
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar